Asian One Menyesalkan Keberadaan Penumpang Yang Membahayakan

Asian One Menyesalkan Keberadaan Penumpang Yang Membahayakan

Asian One Menyesalkan Keberadaan Penumpang Yang Membahayakan, Pada tanggal 30 Desember 2009, penerbangan Mandala RI-103 dengan rute Pekanbaru-Batam jam keberangkatan 11.55 WIB yang mengangkut 179 orang penumpang terpaksa mengalami keterlambatan. Penerbangan yang dipimpin oleh Captain Pilot Rafiqul Hamid terpaksa menurunkan tujuh orang penumpang di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, setelah para penumpang tersebut melakukan tindakan yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan dan penumpang yang lain.

Pihak Mandala menjelaskan saat seluruh penumpang sudah melakukan proses boarding, dan pesawat sudah bergerak menuju landasan pacu, seorang penumpang wanita bernama Herawati masih menggunakan telepon genggam didalam pesawat. Pramugari Mandala sudah beberapa kali mengingatkan untuk mematikan telepon genggam, namun penumpang itu bersama rombongan berjumlah tujuh orang tidak menggubris malah semakin marah. Hingga melepaskan sabuk pengaman, meninggalkan kursi dan menggedor-gedor ruang kokpit serta meminta pesawat kembali untuk menjemput suaminya yang tertinggal. Berkaitan dengan kejadian ini pihak Mandala menolak untuk berdamai dan tetap meminta agar Herawati diproses sesuai hukum yang berlaku.

Asian One Menyesalkan Keberadaan Penumpang Yang Membahayakan

Badan dunia yang mengatur penerbangan sipil, International Civil Aviation Organization (ICAO), mengistilahkan penumpang itu sebagai: “Disruptive Passenger”, yaitu: “Seorang penumpang yang tidak menghargai aturan-aturan yang berlaku di suatu bandar udara atau didalam pesawat atau tidak mengikuti instruksi- instruksi dari petugas bandar udara atau awak pesawat dan mengganggu ketertiban dan disiplin di suatu bandar udara atau didalam pesawat”. Sebagai padanan dan terjemahan istilah dari “Unruly Passanger” saya menggunakan istilah “Penumpang Indisipliner”, karena menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata “indisipliner” adalah tidak patuh pada peraturan. Berdasarkan pada pengalaman yang terjadi didalam dunia penerbangan maka Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional, International Air Transport Association (IATA) telah menetapkan daftar perilaku penumpang yang indisipliner atau “unruly/disruptive” didalam pesawat, antara lain:

  1. Konsumsi alkohol secara berlebihan dan juga penggunaan narkotika secara illegal.
  2. Penolakan untuk mentaati petunjuk keselamatan (termasuk tidak mengikuti petunjuk awak kabin seperti: petunjuk untuk menggunakan sabuk pengaman, untuk tidak merokok, untuk mematikan alat-alat elektronik atau mengganggu pengumuman keselamatan),
  3. Perlawanan secara verbal dengan awak pesawat atau penumpang
  4. Perlawanan secara fisik dengan awak pesawat atau penumpang
  5. Penumpang yang tidak bisa bekerja sama (termasuk mengganggu tugas- tugas awak pesawat, menolak untuk mengikuti petunjuk untuk memasuki atau meninggalkan pesawat).
  6. Memberikan ancaman (termasuk semua jenis ancaman baik secara langsung kepada seseorang, seperti ancaman untuk melukai seseorang, ataupun untuk menimbulkan kegelisahan dan kekacauan, seperti pernyataan terkait ancaman bom, atau perilaku yang dapat mmempengaruhi keselamatan awak pesawat, penumpang dan pesawat itu
  7. Penyalahgunaan seksual dan pelecehan
  8. Perilaku onar lainnya (termasuk: berteriak-teriak, tindakan mengganggu, menendang-nendang dan memukul-mukulkan kepala di belakang kursi atau meja lipat).

Badan dunia yang mengatur penerbangan sipil, International Civil Aviation Organization (ICAO) pun juga telah menetapkan 4 (empat) tingkatan dari ancaman terkait dengan perilaku penumpang indisipliner atau “unruly/disruptive passenger”, yaitu:

Tingkat 1 — Perilaku yang disruptif atau indisipliner secara verbal, dikatagorikan sebagai “Ancaman Kecil” atau “Minor Threat”.

Tingkat 2 — Perilaku penyalahgunaan secara fisik, dikatagorikan sebagai “Ancaman Sedang” atau “Moderate Threat”.

Tingkat 3 — Perilaku yang mengancam jiwa atau menunjukkan senjata, dikatagorikan sebagai “Ancaman Serius” atau “Serious Threat”.

Tingkat 4 — Usaha dan tindakan nyata untukmemasuki ruang kemudi pesawat (“cockpit”), dikatagorikan sebagai “Ancaman Ruang Kemudi” atau “Flight Deck Threat”.

Salah satu karakteristik dari industri penerbangan adalah bisnis yang padat aturan (“strictly regulated business”). Untuk itu para penumpang sebagai pengguna jasa penerbangan seharusnya mengetahui, memahami dan menjalankan segala peraturan yang berlaku di dunia penerbangan sipil/komersial agar kenyamanan, keamanan dan keselamatan penerbangan dapat dirasakan oleh konsumen itu sendiri. Selain itu para penumpang dapat terhindar pula dari kejadian dikeluarkan, diturunkan bahkan diusir dari dalam pesawat oleh karena melakukan tindakan- tindakan indisipliner atau “unruly/distruptive behavior” dan dianggap mengganggu kenyamanan para penumpang lain serta membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan.

Asian One Menyesalkan Keberadaan Penumpang Yang Membahayakan, Asian One Air selaku pemegang Air Operator Certificate (AOC) 135-007 memiliki Program Keamanan Bandar Udara (PKAU) yang bertujuan untuk melindungi keselamatan, keteraturan dan efisiensi penerbangan di PT. Asian One Air melalui pemberian regulasi, standard dan prosedur serta pelindungan yang diperlukan bagi penumpang, awak pesawat udara, personel di darat dari tindakan melawan hukum. Baca Juga “Asian One Mengutuk Candaan Bom Dalam Pesawat”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *